Kamis, 03 Februari 2011

Hukum Puasa Bagi Ibu Hamil Dan Menyusui

Beribadah  puasa (shaum) di bulan Ramadhan adalah wajib hukumnya bagi semua pemeluk agama Islam yang sudah akil baligh. Selama sebulan penuh umat Islam berpuasa mulai adzan subuh berkumandang hingga waktu magrib. Secara lahiriah berpuasa menghindarkan diri dari makan, minum dan hubungan intim, namun secara bathiniah juga dipuasakan mencegah dari sifat dan perbuatan tecela yang dapat mengurangi pahala berpuasa.
Dalam Alquran Allah SWT telah menyebutkan hukum dan ketentuan dalam berpuasa yang terdapat dalam Surah Al Baqarah (2) ayat 183-185.
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS 2: 183)
“ (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. “ (QS 2:184)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS 2:185)
Berpuasa pada wanita hamil dan menyusui
Wanita secara kodrati mengalami fase reproduksi dimana ia hamil dan menyusui. Lamanya hamil pada manusia selama 280 hari / 40 minggu (sering disebut juga selama 9 bulan dan 10 hari) dan menyusui minimal selama 6 bulan dan dapat hingga menyapihnya dalam 2 tahun.
Dalam menjalankan ibadah puasa agama Islam memberikan kemudahan pada wanita yang sedang mengandung dan menyusui untuk tidak berpuasa karena berat untuk dilaksanakan dan dapat menggantinya pada waktu lain (qadha) atau membayar fidyah (memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan sebanyak 1 sha’ atau 1,5 kg beras atau dapat diberikan dalam bentuk hidangan lengkap).  Selain itu wanita dalam keadaan haid dan nifas (setelah melahirkan sampai 40 hari sesudahnya) tidak diperkenankan berpuasa hingga selesai masanya.
Apabila wanita hamil atau sedang menyusui merasa kuat dalam berpuasa maka ia dapat melakukan puasa dengan tidak memaksakan diri. Tubuh akan membunyikan “alarm” apabila terasa membahayakan bagi diri ibu maupun janin yang dikandungnya. Dan apabila terjadi demikian sebaiknya segera membatalkan puasa demi kemaslahatan diri dan janinnya.
Pada masa menyusui kalori yang dibutuhkan bukan berkurang malah harus bertambah 300-500 kalori jika dibanding ibu hamil ! Asupan kalori dalam bentuk makanan dan minuman berkaitan langsung dengan jumlah air susu ibu (ASI) yang keluar. Semakin banyak asupan kalori dan nutrisi maka akan semakin banyak dan bergizi ASI yang dihasilkan. Seringkali setelah menyusui timbul rasa lapar yang sangat serta produksi ASI yang berkurang ketika kurangnya asupan nutrisi. Sehingga kecukupan kalori ibu menyusui amat penting bagi keberhasilan menyusui.
Apabila dalam masa hamil dan menyusui seorang ibu masih mendapatkan kenaikan berat badan (pertanda cukupnya asupan kalori) dan tidak ada hambatan pada kehamilan dan keluarnya ASI maka berpuasa lebih baik dilaksanakan. Berpuasa tidaklah berarti mengurangi makan dan minum namun lebih berarti memindah jadwal makan.
Secara medis apabila ibu hamil berpuasa ternyata tidak berdampak pada penurunan kesehatan bayi  yang dilahirkan (berat badan bayi dan nilai APGAR saat lahir), tidak  berdampak pada penurunan IQ bayi dan  tidak secara bermakna berpengaruh terhadap kadar glukosa darah pada hamil muda (namun berpengaruh pada hamil tua). Sedangkan di Nigeria dilakukan penelitian pada ibu menyusui didapatkan tidak ditemukan penurunan jumlah air susu ketika berpuasa dan mengkonsumi lebih banyak air ketika buka dan sahur.
Allah SWT sangat memahami kesulitan yang dialami kaum muslimin dalam menjalankan ibadah puasa. Keringanan dan kemudahan untuk tidak diberikan pada bagi orang yang sedang sakit, atau dalam perjalanan, orang yang berat melakukannya (lansia, pekerja berat) dan secara khusus pada ibu hamil dan menyusui. Allah SWT tidak menghendaki kesulitan, Allah memberikan kemudahan dalam beribadah kepada-Nya.

Sejarah Krakatau

Pada mulanya Pulau Krakatau besar yang biasa kita sebut dengan nama Gunung Krakatau adalah sebuah gunung (Gunung Krakatau purba) yang memiliki ketinggian sekitar 2000 mdpl dengan lingkaran pantainya sekitar 11 km dan radius sekitar 9 km2.
Namun ledakan dahsyat yang terjadi sekitar 416 M ini telah menghancurkan tiga perempat tubuh gunung tersebut dan menyisakan tiga pulau besar, yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang, serta sebuah kaldera di tengah ketiga pulau tersebut. sebelum tahun 1883 muncullah dua buah gugusan gunung yang bernama Gunung danan dan gunung Perbuatan yang kemudian lam-kelamaan bersatu dengan Pulau rakata dan biasa disebut dengan Gunung Krakatau saja.
Pada tahun 1880, yang disebut masa strombolian, aktivitas vulkanis berlangsung selama beberapa bulan, dan Gunung Perbuatan aktif mengeluarkan lava. Setelah periode itu, tidak ada aktivitas vulkanis hingga akhirnya muncul tanda akan adanya letusan pada bulan Mei 1883.
Lalu pada tanggal 27 Agustus 1883 Gunung Krakatau meletus. Menurut catatan sejarah yang hingga kini selalu dipromosikan jajaran pariwisata Lampung, Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat, menggemparkan dunia. semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km. Sementara abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. dilihat daru Amerika Utara dan Eropa, saat itu cahaya matahari tampak berwarna biru dan bulan tampak jingga (oranye).
Letusan gunung ini menghasilkan debu hebat yang mampu menembus jarak hingga 90 km. Letusan itu pun berdampak terjadinya gelombang laut sampai 40 m vertikal dan telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa pada 165 desa baik di Lampung Selatan ataupun pada barat Jawa Barat. Dan karena letusannya itu telah melenyapkan Gunung Danan dan Perbuatan dari muka bumi dan menyisakan tiga pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar serta sebuahkaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut yang berdiameter 7 km.
Empat puluh tahun kemudian lahir keajaiban baru. Sekitar tahun 1927 para nelayan yang tengah melaut di Selat Sunda tiba-tiba terkejut. Kepulan asap hitam di permukaan laut menyembul seketika di antara tiga pulau yang ada, yaitu di kaldera bekas letusan sebelumnya yang dahsyat itu. Kemudian pada tanggal 29 desember 1929 sebuah dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi. Hanya dua tahun setelah misteri kepulan asap di laut itu, kemudian muncullah benda aneh. "Wajah" asli benda aneh itu makin hari makin jelas dan ternyata itulah yang belakangan disebut Gunung Anak Krakatau.
Tapi misteri Gunung Anak Krakatau tidak sampai di situ. Gunung ini memiliki keunikan tersendiri, sebab gunung ini selalu menambahkan ketinggiannya sekitar satu senti tiap harinya. Gunung Anak Krakatau yang semula hanya beberapa meter saja, sekarang sudah dapat mencapai 230 mdpl dan sejak munculnya pada tahun1927. Gunung ini tercatat telah meletus sekitar 16 kali sejak Desember 1927 sampai Agustus 1930 dan 43 kali sejak 1931-1960 dan 13 kali sejak 1961-tahun 2000.

Sejarah Dakwah Rasulullah Saw Periode Mekah

1. Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekah
Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul terdahulu, seperti Nabi Adam A.S. Mereka umumnya beragama watsani atau agama penyembah berhala. Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah (Baitullah = rumah Allah SWT). Di antara berhala-berhala yang termahsyur bernama: Ma’abi, Hubai, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manar. Selain itu ada pula sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum Sabi’in.
2. Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul
Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara kota Mekah.
Muhamad diangkat Allah SWT, sebagai nabi atau rasul-Nya ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali yakni Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq, 96: 1-5. Turunnya ayat Al-Qur’an pertama tersebut, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an.
Menurut sebagian ulama, setelah turun wahyu pertama (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5) turun pula Surah Al-Mudassir: 1-7, yang berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam kepada umat manusia.
Setelah itu, tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Mekah (periode Mekah) selama 13 tahun (610-622 M), secara berangsur-angsur telah diturunkan kepada beliau, wahyu berupa Al-Qur’an sebanyak 4726 ayat, yang meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah dinamakan Surah Makkiyyah.
3. Ajaran Islam Periode Mekah
Ajaran Islam periode Mekah, yang harus didakwahkan Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah sebagai berikut:
a. Keesaan Allah SWT
b. Hari Kiamat sebagai hari pembalasan
c. Kesucian jiwa
d. Persaudaraan dan Persatuan

STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH
Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama, moral dan hokum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi dakwah Rasulullah SAW dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut:
1. Dakwah secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun
Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil).

Sejarah Danau Tondano

danau tondano di Manado
danau tondano di Manado
Sebagai kota terbesar di wilayah ini, Manado mempunyai tempat pariwisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Danau Tondano. Danau Tondano adalah danau terluas di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Danau ini diapit oleh Pegunungan Lembean, Gunung Kaweng, Bukit Tampusu, dan Gunung Masarang. Danau ini dilingkari dengan jalan provinsi dan menghubungkan kota Tondano, Kecamatan Tondano Timur, Kecamatan Eris, Kecamatan Kakas, Kecamatan Remboken, dan Kecamatan Tondano Selatan. Danau ini merupakan danau penghasil ikan air tawar seperti ikan mujair, pior/kabos, payangka wiko (udang kecil), nike dan lain-lain.
Luas danau ini 4.278ha, dan terdapat pulau kecil bernama Likri (depan desa Tandengan kecamatan Eris). Di tepi Danau Tondano terlihat jelas Gunung Kaweng. Konon danau ini terjadi karena letusan yang dahsyat karena ada kisah sepasang insan manusia yang berlainan jenis melanggar larangan orang tua untuk kawin (bahasa Minahasa: kaweng) dengan nekat lari (tumingkas) di hutan. Sebagai akibat melanggar nasihat orang tua maka meletuslah kembaran gunung kaweng tersebut sehingga menjadi danau Tondano.
Danau Tondano mempunyai obyek wisata yang terkenal “Sumaru Endo” Remboken, dan Resort Wisata Bukit Pinus (Tondano arah Toliang Oki). Dari tepian danau Tondano (Toliang Oki), kita dapat melintas puncak Bukit Lembean dan memandang keindahan Laut Maluku (di sebelah timur), tepatnya kawasan Tondano Pante (Kecamatan Kombi), Kabupaten Minahasa.

Sejarah Danau Begudul




Kalau mau cari tempat yg sejuk di Bali, jalan2 ajah ke Bedugul. Salah satu tempat tertinggi di Bali dengan hamparan pegunungan dan danaunya yg sangat indah, yaitu Danau Beratan. Kalau dari daerah Kuta seh sekitar 2 jam drive. Lumayan jauh emang. Bedugul berada di desa Candikuning, Tabanan, merupakan perbatasan antara kab.Tabanan dgn kab.Buleleng. Suhu rata-rata di daerah Bedugul siang harinya berkisar 18-22 derajat Celcius. Yah lumayan dingin seh. Apalagi kalau pas lagi hujan dan angin, tambah dingiiinnn….

Tiket masuk per-orang adalah IDR 7.500.- utk domestik dan IDR 10rb utk foreigner. Setelah membayar tiket, kita akan melihat sebuah taman yg sejuk dan hijau banget dengan bunga2 beraneka ragam. Melewati jalan setapak, kita akan mencapai sebuah gapura besar yg merupakan pintu masuk menuju Pura Ulundanu. Coba lihat ke arah kiri, disana ada candi Budha yg sampai skrng masih dipakai utk pemujaan.

Pemandangan alam Danau Beratan yg ada di Bedugul ini sangat indah. Hamparan danau sedalam 23meter membuat mata menjadi sejuk dan damai. Belum lagi ada sebuah pura luhur yaitu pura Ulundanu yg berada ditengah2 danau. Wow…cantik sekali. Pura Ulundanu adalah tempat pemujaan untuk Dewi Danu atau Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran yg dibangun sekitar abad XVI. Pura ini memiliki atap (meru) sebanyak 11 tingkat. Kalo pernah liat iklan Djarum76 di tv..nah mereka mengambil lokasi syuting di Danau Beratan dgn Pura Ulundanu-nya sbg background. Kalo maseh penasaran, datang ajah deh ke Bedugul….

Letak / Lokasi Bedugul
Danau Bedugul terletak di Kabupaten Tabanan. Danau Bedugul ini merupakan tempat wisata pilihan di Bali, Suhu udara di Bedugul jauh lebih dingin dibandingkan tempat wisata lainnya. Dengan suhu kurang lebih 18 Derajat Celcius.

Sejarah Bedugul
Bedugul berasal dari kata Bedogol. Bedugul ini adalah danau beratan yang paling dangkal, di daerah danau Bedugul ini banyak terdapat hasil pertanian. Hasil pertanian disini yang paling banyak dijumpai adalah buah buahan dan sayuran. Banyak jenis buah-buahan disini diantaranya adalah buah markisa, buah anggur, dan buah manila.

Kondisi Fisik Bangunan Bedugul
Secara global bangunan yang terdapa pada danau Bedugul ini adalah bersifat kuno atau bersifat khas zaman dahuu. Danau tersebut tempatnya juga bersih dan tidak kotor.

Pembagian-pembagian ruang Bedugul
Bangunan-bangunan yang terdapat di Bedugul yaitu kios-kios tempat penjualan oleh-oleh diantaranya adalah kios buah-buahan, supermarket, tempat bangunan untuk menikmati danau Bedugul.

Pengunjung, Pembeli di Bedugul
Banyak pengunjung yang datang ke danau Bedugul. Turis-turispun banyak yang datang kesana. Disana juga banyak orang yang membeli baju, buah-buahan atau hiasan-hiasan dinding yang tersedia disana. Pengunjung banyak berkunjung kesana kira-kira pada saat hari libur dan study tour sekolah.

Sarana Prasarana
Isi dalam danau Bedugul ini salah satunya kapal-kapal laut yang disewakan kepada pengunjung, adapun supermarket dan kios-kios kecil sebagai tempat pengunjung membeli oleh-oleh bagi keluarga.

Pedagang
Didaerah danau Bedugul banyak penjual yang menjual berbagai buah-buahan hasil pertanian disana dan berbagai baju, ukir-ukiran khas Bali, penjual disanapun sangat ramah dan tlaten melayani pembeli. Barang-barang yang dijual disana amat mahal tetapi kalau kita bisa menawar mungkin harganya jauh lebih murah dari pada harga semula.

Kelebihan
Kelebihan obyek wisata di Danau Bedugul ini adalah kondisi fisik bangunannya yang bersih dan teratur.

Asal Usul Danau Maninjau

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!
Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

Sejarah Danau Tiga Warna

GELUR.net - Panorama Danau Tiga Warna Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memang penuh misteri yang tak terselami hingga saat ini.Perubahan warna danau yang sering terjadi di tiga kawah terpisah bekas letusan Gunung Kelimutu itu menjadi keunikan yang tak ada duanya di dunia. Sebagai warga yang cukup lama tinggal di daratan Flores, saya akan memaparkan apa yang saya ketahui tentang Danau Kelimutu berdasarkan pengamatan dan pengetahuan pribadi. Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini dikenal sebagai danau tiga warna. Dinding danau yang indah ini rawan longsor.

Sayangnya, keindahan Danau Kelimutu tak seindah sistem pengelolaannya. Sejumlah fasilitas, terutama sarana untuk wisatawan, kini banyak dalam kondisi rusak dan tak terawat. Misalnya saja kamar kecil, bangunan pendopo di areal parkir yang kondisinya memprihatinkan, serta kapasitas lahan parkir yang amat terbatas, yang hanya mampu menampung sekitar 20 kendaraan roda empat dan beberapa sepedamotor. Danau Kelimutu sesungguhnya merupakan salah satu obyek wisata andalan Flores. Untuk mencapai danau yang terletak sekitar 51 kilometer arah timur dari Kota Ende itu, wisatawan bisa menggunakan kendaraan bermotor dari Ende, juga bisa menggunakan bus antarkota.Pemandangan di kawasan itu sangat memesona. Kabut putih tebal yang bergerak perlahan menutupi puncak Gunung Kelimutu ( kurang lebih 1.640 meter di atas permukaan laut) merupakan salah satu pemandangan yang sangat khas di sekitar tiga danau berwarna di atas puncak gunung. Potensial Di kawasan Danau Kelimutu banyak hal yang dapat dijumpai, yang jika dikelola secara optimal pasti akan mampu menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Manakala situasi sepi pengunjung, suasana akan terasa senyap dan menjemukan. Kita hanya akan melihat hamparan tanah dengan sejumlah tanaman hijau, selain tentunya menyaksikan perubahan warna yang menakjubkan ketiga danau. Namun, jangan berharap ada penjelasan atau keterangan yang memadai seputar keajaiban danau itu maupun alam sekitarnya.Di kawasan danau hanya ada satu papan yang “berjudul” Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi. Akan tetapi, papan itu pun kondisinya sudah tak terawat, penuh goresan tangan jahil yang menghilangkan sejumlah huruf. Keterangan yang diberikan pun hanya seputar legenda secara garis besar, tidak ada penjelasan secara ilmiah. Tiga danau yang letaknya berdekatan satu sama lain itu juga “tidak bernama”. Di sisi timur, terdapat dua danau, yang airnya masing-masing berwarna hijau dan cokelat tua. Untuk danau yang berwarna hijau, masyarakat biasanya menyebutnya dengan danau arwah muda-mudi (tiwu nua muri ko’o fai). Yang berwarna cokelat tua disebut danau arwah tukang tenung atau orang jahat (tiwu ata polo).

Di sisi barat ada satu danau yang berwarna hijau lumut atau gelap, yang biasa disebut danau arwah orangtua (tiwu ata mbupu). Perubahan warna Sejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di danau itu disebabkan aktivitas Gunung Berapi Kelimutu, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimia terlarut, serta akibat pantulan warna dinding dan dasar danau. Penjelasan singkat bahwa perubahan warna air ke biru putih (sekarang hijau) dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api, atau dapat juga akibat meningkatnya suhu. Sementara itu, meningkatnya konsentrasi besi (Fe) dalam fluida menyebabkan warna merah hingga kehitaman (sekarang cokelat tua). Adapun warna hijau lumut dimungkinkan dari biota jenis lumut tertentu.Lalu soal dinding pemisah antara tiwu nua muri ko’o fai dengan tiwu ata polo diberikan penjelasan singkat bahwa dari sudut geologi, bagian dinding danau merupakan bagian yang paling labil. Dengan posisi berdekatan, apalagi jika terjadi gempa dengan skala besar, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu.Selain itu, mengingat Pulau Flores termasuk daerah rawan gempa, diperlukan kajian untuk dapat menginformasikan kepada wisatawan pada lokasi mana harus berlindung ketika berada di sekitar Danau Kelimutu. Sejarah Kelimutu Kelimutu merupakan gabungan dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih itu merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Pulau Flores, selain Komodo, kampung tradisional Bena dan Taman Laut Riung yang indah.Bagi Anda yang sempat berkunjung ke Flores, kunjungan Anda ke Flores di NTT belum lengkap bila belum sempat mampir ke Danau Kelimutu yang terletak di Gunung Kelimutu. Danau ini menyuguhkan pemandangan danau 3 warna yang pada waktu waktu tertentu warnanya dapat berubah. Danau Kelimutu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Danau ini mulai dikenal setelah Romo Bouman menerbitkan artikel mengenai Danau Kelimutu.Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius, karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.Awalnya Danau Kelimutu dikenal memiliki tiga warna, yakni merah, putih dan biru, dibeberapa dokumen yang ada, danau yang sekarang berwarna hitam, dulu sebelum tahun 1970 berwarna merah, seperti terlihat pada lembaran uang kertas RI harga Rp 5.000 yang lama.

Penduduk setempat meyakini bahwa perubahan warna ketiga danau tersebut menunjukkan gejala alam yang akan timbul seperti gunung berapi meletus, adanya longsor, musibah alam lainnya atau musibah lainnya. Untuk menapaki puncak Kalimutu, ada beberapa pilihan untuk mencapai puncak Kelimutu, yakni dengan berjalan kaki, naik kuda, menyewa motor dan menyewa mobil.

1. Air Panas Tidak jauh dari Moni Anda dapat menjumpai beberapa sumber air panas di sekitar Moni dan sangat menyegarkan untuk mandi di sumber panas ini terutama setelah Anda turun bekeringat dari Gunung Kelimutu.

2. Rumah adat Di sekitar Moni seperti di Desa Ngala, Jopu atau Wolowaru pada saat itu Anda dapat melihat beberapa rumah adat setempat yang dibangun menjulang tinggi, beratap kerucut, bentuk di bagian bawah mirip rumah panggung yang tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah dan untuk masuk ke dalam rumah seseorang harus menggunakan tangga. Di bagian dalam atap kerucut ini ada suatu platform di mana benda benda sakral termasuk juga tulang belulang nenek moyang mereka disimpan. Sayang sekali ruangan ini tidak diperkenankan untuk difoto.

3. Misionaris Larantuka dan Maumere merupakan titik awal penyebaran agama Katolik oleh para misionaris Portugis. 400 tahun yang lalu para misionaris Portugal masuk pertama kali ke Maumere, salah satu peninggalan Portugis adalah Gereja Tua Sikka bernuansa Portugis yang sampai sekarang masih berdiri megah di Desa Sikka. Gereja ini berarsitektur kolonial, unsur-unsur tradisional Flores tetap diakomodasikan dalam interiornya dengan berbagai motif tenun Sikka terlukis pada dinding dan altarnya. Seminari Ledalero dengan museumnya, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh agama Katolik dalam kehidupan masyarakat Maumere. Perjalanan panjang sejarah Flores dapat ditelusuri dari berbagai koleksi yang dimilikinya. Berbagai koleksi tenun ikat dengan motif yang kini tak lagi diproduksi pun dapat ditemui di museum ini. Seminari Ledalero dikelola oleh para misionaris SVD yang berasal dari Austria.

4. Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende Rumah pembuangan Bung Karno terletak di Jalan Perwira, Kota Ende yang secara kasat mata kelihatan seperti layaknya permukiman penduduk, yang membedakan dari rumah penduduk lainnya adalah sebuah papan nama bertuliskan “Situs, Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende” terpampang di halaman depan. Di rumah berukuran 12 x 9 meter ini, mantan Presiden Republik Indonesia yang pertama Soekarno (Bung Karno) menjalani masa pengasingan oleh Kolonial Belanda selama empat tahun (1934-1938).